Minggu, 23 Agustus 2015

Bagaimana Memilih Sekolah Untuk Anak?


Ditulis oleh
Margaretha Wirjadi
Pendiri dan Kepala Sekolah Phoenix Kids Menteng
serta Instruktur Yoga Anak Klinik Pelangi Cibubur


Bagi pasangan yang memiliki anak usia balita, sering kali timbul pertanyaan :
“Sekolah dimana anak kita?”
“Apakah yang tempat bermainnya besar?”
“Apakah yang banyak peralatannya?”
“Sekolahnya keren nggak yah?”
“Sekolahnya mahal nggak yah?”
“Sekolah yang lagi trend yang mana nih?”
“Apakah diajarkan bahasa Mandarin dan Inggris?”
“Pokoknya anak kita harus bisa baca tulis dan matematika!”
“Anak kita harus rangking!”
dan masih banyak lagi pertanyaan serta tuntutan orang tua terhadap bakal sekolah anaknya. Bisakah anda bayangkan begitu banyaknya tuntutan dari orang tua pada saat anaknya baru mulai sekolah?

Dewasa ini anak-anak memulai bersekolah lebih awal dari jaman dahulu. Ada yang memulainya saat berumur 2 tahun, bahkan ada yang mulai dari usia 6 bulan. Beban berat sudah dipikul oleh anak sejak usia dini. Padahal sang anak akan belajar di bangku sekolah selama kurang lebih 20 tahun. Ya… 20 tahun, dimulai dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga bangku kuliah.

“Bagaimana memilih sekolah yang sesuai untuk anak saya?” menjadi pertanyaan yang ada di benak setiap orang tua. Pemilihan sekolah yang tepat akan membantu mengembangkan potensi anak, karena disanalah seorang anak pertama kali mengenal dunia luar dan keluar dari zona nyamannya.

Beberapa tips yang harus diperhatikan orang tua dalam memilih sekolah anak, diantaranya:

1.      Jarak dari rumah ke sekolah.
Pilihlah sekolah yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari rumah. Bila anak terlalu lama menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah, mereka akan menjadi terlalu lelah di jalan dan cenderung moody.

2.      Kurikulum sekolah tersebut.
Jangan sungkan untuk menanyakan kepada pihak sekolah apa yang menjadi fokus pendidikannya. Apakah sekolah menitik beratkan pada akademik atau perkembangan anak? Apakah kurikulum sekolah tersebut disesuaikan untuk setiap tahapan perkembangan usia anak?

3.      Observasi ke sekolah.
Kunjungi dan lakukan observasi pada saat kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Beberapa sekolah usia dini (Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak) memberikan trial class bagi calon muridnya, dimana anak dan orang tua dapat mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Gunakan kesempatan ini untuk melihat bagaimana interaksi antara guru dan anak.

4.      Perbandingan guru dan murid.
Berapa jumlah anak dalam setiap kelas dan berapa guru untuk kelas tersebut? Kelas yang anaknya berumur lebih muda, seperti 2 – 4 tahun membutuhkan lebih banyak perhatian dibandingkan anak usia Taman Kanak-kanak. Namun perlu diingat, guru juga harus berbagi terhadap anak lain.  Oleh karena itu rasio guru dan murid sangatlah penting.

5.      Kegiatan sekolah tersebut.
Apakah sekolah membebani anak dengan akademik atau memang disesuaikan dengan perkembangan anak? Bagaimana perbandingan antara pelajaran di dalam kelas dan di luar kelas?

6.      Biaya dari sekolah tersebut.
Orang tua harus mempertimbangkan biaya pendidikan anaknya secara matang. Tanyakan pada sekolah apakah ada biaya-biaya lain di luar biaya uang pangkal dan uang sekolah yang dibayarkan setiap bulannya. Biaya-biaya seperti seragam, buku, bahan, kegiatan, field trip, graduation, dll, sebaiknya diketahui sejak awal.

Dibutuhkan peran dan kebijaksanaan orang tua dalam memilih sekolah. Jangan hanya sekedar mengikuti trend dalam menyekolahkan anak, tetapi pilihlah sekolah yang sesuai dengan karakter anak kita, karena kita ingin dia berkembang sesuai dengan kemampuannya.


Harus diingat, setiap anak adalah unik dan waktu dia di bangku sekolah masih akan cukup panjang. Memulai bersekolah dengan pengalaman yang menyenangkan akan membantu menyiapkan mereka untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Minggu, 16 Agustus 2015

KOMPETISI

psikologneta
ditulis oleh Reneta Kristiani, M.Psi
Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Di era globalisasi sekarang ini segala sesuatu dituntut untuk berkompetisi, bahkan anak-anak sekalipun. Lihatlah bagaimana anak-anak sudah harus mengikuti tes masuk untuk masuk SD, bahkan di TK pun sudah banyak yang menerapkan seleksi masuk. Jadi yang bisa diterima hanyalah anak-anak dengan tingkat inteligensi yang biasa ditandai dengan skor IQ rata-rata ke atas. Ketika sudah masuk sekolah pun, mereka tetap harus berkompetisi meraih nilai yang terbaik yang nantinya akan menentukan mereka masuk ke kelas unggulan atau tidak. Ada rasa bangga pada orang tua apabila anak mereka dapat berada di kelas unggulan sehingga orang tua pun mendorong anaknya untuk meraih nilai yang baik, apapun caranya. Bahkan ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem akselarasi dimana anak bisa menempuh pendidikan hanya dalam waktu singkat. SD yang tadinya 6 tahun dapat menjadi 5 tahun, SMP & SMA yang 3 tahun menjadi 2 tahun. Apabila anaknya hanya mendapat nilai 70 / 80 (yang sebenarnya sudah melebihi nilai KKM yaitu 60/65), orangtua akan marah dan terus mendorong anak-anaknya untuk meraih nilai lebih tinggi lagi yaitu 90/100. Akhirnya orangtua akan menjejali anak-anaknya dengan banyak les pelajaran seperti Matematika, Science, Bahasa inggris, dll. Anak-anak kehilangan waktu bermain dan beristirahat mereka, pulang sekolah mereka harus tetap belajar dan belajar.
Namun di satu sisi lain, anak seperti kehilangan tujuan hidup. Hidup mereka semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus untuk mata pelajaran tertentu. Ketika ditanya mereka mau jadi apa saat dewasa kelak, banyak dari mereka yang bingung mau jadi apa. Ketika ditanya apa minat dan hobi mereka, mereka pun bingung karena hidup mereka selama ini diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Mereka juga sulit berhubungan sosial dengan orang lain, karena motivasi mereka selalu ingin berkompetisi menjadi yang terbaik dari orang lain.
Dapatkah kita bayangkan bagaimana mereka kelak hidup bermasyarakat ?
Akankah kita biarkan generasi penerus bangsa seperti itu?
Hanya hebat di Matematika atau Science tetapi tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?
Sulit untuk bisa menerima perbedaan dan kelemahan orang lain karena tidak semua orang pintar Matematika atau Science?
Marilah kita mengembangkan juga keterampilan sosial mereka!
Marilah kita memperhatikan juga perkembangan emosi mereka!
Karena di dalam hidup ini, anak-anak juga perlu belajar pemecahan masalah dan cara-cara mengendalikan emosi.
Marilah kita kembangkan juga kreativitas mereka !
Berilah mereka ruang untuk mengenali diri mereka sendiri. Apa kelebihan dan kekurangan mereka, apa minat dan hobi mereka, ijinkan mereka berkreativitas sebebas mungkin melalui kegiatan bermain. Bermain sebenarnya juga mengajarkan mereka cara pemecahan masalah. Melalui bermain, anak juga belajar menyalurkan emosinya dengan cara yang sehat. Masalah apa yang sedang anak pikirkan akan muncul melalui tema-tema dalam bermain. Anak akan merepresentasikan emosi yang ia rasakan melaui alat-alat permainan tersebut.
Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Semoga dengan lebih memahami anak-anak, kita  dapat lebih peka akan kebutuhan mereka. Biarkanlah anak-anak berkembang sesuai dengan usianya. Untuk kehidupan anak-anak yang lebih baik. Demi generasi penerus bangsa karena di tangan anak-anaklah, masa depan bangsa Indonesia.
Selamat menyambut hari kemerdekaan Indonesia!

Sabtu, 01 Agustus 2015

Perkenalkan Psikolog Dewasa di Klinik Pelangi





   Seorang Psikolog lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa UI yang berpengalaman menangani permasalahan seputar kesehatan mental remaja maupun dewasa. Masalah-masalah yang pernah ditangani antara lain tentang masalah stres kerja, stres terkait penyakit kronis, ketergantungan obat-obatan terlarang (adiksi), gangguan emosional dan juga orientasi seksual. Memiliki minat dalam menangani kasus terkait hubungan romantis, orientasi seksual (LGBT), dan dukacita.

Remaja dan Tips Menghadapi Mereka


dinda 3
ditulis oleh Dinda Aisha, M.Psi., Psi.
Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Apakah anda orang tua yang memiliki anak yang sudah beranjak remaja? Apakah anda merasa khawatir sampai pusing dalam menyikapi perilaku-perilaku mereka? Artikel ini akan sedikit memberikan gambaran mengenai remaja dan bagaimana orang tua merespon terhada perilaku anak yang sudah beranjak remaja?
Seorang anak disebut sudah remaja apabila ia sudah berusia kurang lebih 13 tahun ke atas. Masa ini adalah masa transisi antara masih menjadi anak-anak dan mempersiapkan diri menjadi dewasa. Di satu sisi mereka tidak lagi anak-anak, tetapi di sisi lain mereka belum siap untuk menjadi dewasa. Mereka biasanya mudah terdeteksi melalui perubahan fisiknya, yaitu mulai menstruasi, tumbuh buah dada, bentuk badan mulai berubah, mulai muncul jerawat untuk perempuan dan untuk laki-laki mulai tumbuh kumis, jenggot, suara mulai berubah dan sebagainya. Perubahan fisik ini diakibatkan oleh perubahan hormon yang ada di dalam tubuh anak. Perubahan hormon-hormon ini mengakibatkan perubahan kondisi emosinya menjadi lebih labil (sering berubah-ubah) dan mudah tersinggung.
Sebagian dari mereka terkadang tidak mau mengikuti aturan karena mereka beranggapan mengikuti aturan adalah hal yang kuno dan tidak cool. Selain itu, mereka juga merasa bahwa teman adalah segala-galanya. Mereka ingin selalu bersama teman-teman, curhat dengan teman, berkumpul dengan teman, mengikuti apa yang teman lakukan, dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa penerimaan dari teman merupakan hal yang penting pada remaja. Namun di sisi lain, mereka juga masih butuh perlindungan dari orang tua. Maka dari itu orang tua juga perlu membangun komunikasi yang tepat dengan remaja agar ketika remaja memiliki masalah, mereka juga akan mencari perlindungan dan pendapat dari orang tua. Apabila komunikasi tidak terjalin dengan baik, maka remaja bisa mencari solusi dari teman atau bahkan lari ke hal-hal yang sangat tidak kita inginkan seperti narkoba, minuman keras dan sebagainya.
Nah, pola pengasuhan setiap tahapan perkembangan memang memiliki tantangannya tersendiri, sebagai contoh mengasuh anak yang baru lahir perlu kehati-hatian. Mengasuh anak batita dan balita, membutuhkan pengetahuan dan pemberian stimulasi yang maksimal. Begitu juga penerapan pengasuhan kepada remaja. Beberapa tips untuk orang tua yang memiliki anak remaja adalah :
  • Ingatlah bahwa orang tua pernah remaja. Coba beberapa saat kembali lagi mengingat masa-masa ketika anda remaja. Apa yang akan anda lakukan dan apa yang anda inginkan orang tua lakukan kepada anda. Hal ini dapat membuat orang tua menjadi lebih peka terhadap kondisi remaja dan memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh remaja.
  • Tetap mempertahankan komunikasi yang positif. Jadilah orang tua, begitu juga teman bagi anak anda yang beranjak remaja. Mereka menginginkan orang tua yang memahami kondisi remaja, seperti apa yang sedang tren di kalangan remaja, apa yang sedang menjadi bahan perbincangan mereka, apa yang mereka sukai, bagaimana cara mereka berpikir dan sebagainya. Cobalah dengarkan apa yang anak anda ceritakan dan hindari pelabelan seperti “nakal”, “jelek”, dan sebagainya. Salah satu bentuk komunikasi yang positif adalah penggunaan I-message. Bentuk komunikasi ini adalah dengan mengutarkan apa yang anda pikirkan dan rasakan daripada menyalahkan anak anda. Sebagai contoh, ketika anda tidak menyukai anak anda pulang terlalu larut malam. Yang mungkin biasa anda katakan adalah “Kamu kemana saja? Kamu tuh sukanya pulang malam terus, kalau terjadi apa-apa bagaimana?” Sekarang coba anda bandingkan dengan mengatakan seperti ini “Bunda dan ayah sedih dan khawatir saat kamu pulang larut malam”. Coba anda bayangkan perkataan mana yang lebih enak didengar dan lebih dapat diterima oleh anak anda.
  • Apabila komunikasi sudah terjalin dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah tetap membuat disiplin di rumah. Namun, buatlah aturan disiplin yang menarik. Sebagai contoh, buatlah aturan disiplin di rumah dan diberlakukan untuk semua anggota keluarga di rumah seperti adik, ayah, maupun bunda. Diskusikan dan buat kesepakatan mengenai aturan apa saja yang akan dibuat di rumah, kemudian tuliskan di kertas dan ditempelkan di kulkas atau dinding rumah. Kemudian, siapa yang melanggar maka akan mendapatkan hukuman atau konsekuensi. Hukuman disini bukanlah hukuman yang bersifat fisik atau merugikan. Sebagai contoh, ketika ada yang melanggar maka ketika hari Sabtu atau Minggu, ia bertugas untuk membuang sampah ke luar, mencuci piring, menyapu halaman, atau menyiram bunga atau kegiatan rumah yang tidak disukai oleh anggota keluaraga.
Beberapa tips di atas bisa coba anda terapkan dengan konsisten di dalam keluarga anda. Ingatlah pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan yang memiliki tantangan tersendiri. Apabila anda bisa melewati tantangan ini dengan sukacita dan terus belajar, maka anda akan merasakan hikmahnya di kemudian hari dengan melihat anak anda juga berperilaku yang positif kepada anda ketika mereka beranjak dewasa.
Enjoy our parenthood!



Rabu, 22 Juli 2015

Hak Anak Indonesia (HAI)

Klinik Psikologi Pelangi Mengucapkan :
Klinik Pelangi
Selamat Hari Anak Nasional
23 Juli 2015
berikut kami sampaikan Klik :



Minggu, 19 Juli 2015

Disiplin Positif, Mungkinkah?

psikologneta
ditulis oleh Reneta Kristiani, M.Psi,
Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Banyak orangtua bingung bagaimana menerapkan disiplin pada anak. Ada yang menggunakan cara-cara kekerasan karena tidak tahu cara lain. Ada pula yang selalu menuruti keinginan anak karena tidak ingin anaknya tersakiti. Akibatnya anak justru menjadi “raja kecil” yang sulit diatur. Sebenarnya ada cara lain yang lebih efektif dalam menerapkan disiplin pada anak yang dikenal dengan nama disiplin positif.
Apakah disiplin positif itu?
Carl.E.Pickhardt,Ph.D seorang psikolog yang banyak menerbitkan buku mengenai parenting dalam salah satu bukunya “The Everything Parent’s Guide To Positive Discipline”  menjelaskan bahwa disiplin  bukan hanya meminta anak berperilaku sesuai dengan yang orangtua mau atau sebaliknya menyuruh anak berhenti berperilaku yang tidak sesuai dengan situasi tertentu. Disiplin lebih merupakan suatu proses dimana melalui arahan positif dan koreksi negatif, anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan nilai keluarga.
"Disiplin positif = 90% arahan + 10% koreksi"
Disiplin positif adalah ketika arahan positif lebih banyak daripada koreksi negatif. Mengapa demikian? Karena melalui disiplin dari orangtua, anak belajar memperlakukan diri mereka sendiri. Anak yang dipuji lebih banyak dan lebih sering akan bertumbuh menjadi individu dewasa yang percaya diri, menghargai diri sendiri. Namun anak yang selalu dikritik dari kecil akan bertumbuh menjadi individu dewasa yang kurang menghargai diri sendiri, kurang percaya diri dan menganggap dirinya banyak kekurangan.
Efektif atau tidaknya disiplin tergantung pada hubungan orangtua dengan anak. Jika ingin disiplin berjalan dengan lancar, maka pastikan ada hubungan yang dekat dengan anak. Fokuslah pada arahan, bukan pada koreksi. Fokus pada rewards daripada hukuman. Semakin menyenangkan hubungan anak dengan orangtua, maka anak akan semakin ingin bekerjasama dengan orangtua. “Aku suka melakukan apa yang diinginkan orangtuaku, karena taat itu rasanya menyenangkan”.  Ingatlah bahwa anak pleasure seeking sehingga anak cenderung mengulangi perilaku yang mendapat rewards. Rewards yang dimaksud di sini bukanlah hadiah berupa barang, melainkan mendapatkan perhatian, penerimaan, persetujuan, pujian, apresiasi / penghargaan, afeksi / kasih sayang dari orangtua.
Penggunaan arahan dan koreksi
Ketika anak kita melanggar aturan atau berperilaku buruk, kita perlu mencari tahu apakah anak kita memahami aturan yang diharapkan. Jika anak kita belum memahami aturan, maka kita perlu memberikan arahan lagi. Contohnya adalah “Ibu tidak mau kamu bermain-main dengan benda tajam itu, karena dapat melukaimu dan kamu akan sakit nantinya”.
Jika anak kita sudah memahami arahan namun memilih untuk tetap berperilaku negatif, maka kita perlu memberikan koreksi. Hal ini untuk menunjukkan bahwa kita serius dalam menegakkan aturan. Ketika kita mengoreksi anak, harus tetap diikuti dengan arahan atau mengajarkan kembali anak kita agar perilakunya berubah di kemudian hari. Misalnya “Karena kamu tahu bahwa mengambil barang milik ayah tanpa permisi itu salah, maka kamu harus membantu ayah membersihkan rumah selama satu jam sebelum pergi bermain. Nanti lain kali bila kamu ingin meminjam sesuatu dari ayah, kamu harus tanya ayah terlebih dahulu”.
Memberikan koreksi sesuai usia anak
Anak di bawah usia 3 tahun
Untuk anak di bawah 3 tahun, anak belum terlalu memahami aturan karena perkembangan bahasanya masih terbatas. Diperlukan kesabaran, konsistensi, dan arahan positif untuk menunjukkan pada anak  bagaimana berperilaku yang baik, penekanannya justru lewat pengajaran nonverbal. Games of imitation merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan anak di bawah usia 3 tahun yang secara alami ingin meniru segala perilaku orangtua. Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk memberikan contoh konkret mengenai perilaku yang diharapkan pada anak. Bila anak sedang lelah atau menolak mengikuti apa yang diajarkan, alihkan perhatiannya ke hal lain.
Ketika kita perlu mengoreksi perilaku anak di bawah 3 tahun dari perilaku buruk seperti memukul, dan perilaku berbahaya seperti membuang-buang barang, pegang tangan anak kita dengan lembut, lihat matanya dengan wajah serius (tetapi bukan marah) gelengkan kepala 3 kali dan katakan “TIDAK!” dengan jelas dan tegas (bukan dengan berteriak). Tunggulah beberapa menit hingga anak memahami apa yang diinginkan dan normalkan hubungan dengan memberinya senyuman dan pelukan. Ketika anak di kemudian hari tidak lagi melakukan perilaku yang buruk dan mau melakukan perilaku sesuai aturan, jangan lupa memberikan rewards berupa pujian dan persetujuan, seperti “Ibu senang kamu sekarang mau tidur siang”.
Anak di atas usia 3 tahun
Untuk anak di atas usia 3 tahun yang sudah mempunyai kemampuan berbahasa yang baik, orangtua dapat menjelaskan kepada anak mengenai aturan dengan spesifik dan operasional, jangan umum dan terlalu abstrak. Contohnya bila menyuruh anak usia 5 tahun untuk membersihkan kamarnya, maka ia hanya akan menyembunyikan mainannya di bawah tempat tidur agar tidak terlihat. Hal itu karena ia tidak memahami apa arti kata “membersihkan kamar”, arahan itu terlalu umum dan abstrak baginya. Untuk itu kita perlu memberikan arahan yang lebih spesifik dan bertahap. Misalnya “Ayah mau kamu mengambil mainanmu di atas lantai dan menyimpannya ke tempat mainan”. Bila anak sudah melakukannya beri rewards dengan apresiasi kita, “Bagus”. Kemudian lanjutkan dengan arahan berikutnya “Nah sekarang ayah minta kamu ambil pakaian kotormu dari tempat tidur dan simpan di keranjang pakaian”.
 
 
Ingatlah anak akan senang belajar aturan bila usaha mereka dihargai.Sebaliknya anak akan menghindari aturan bila usaha mereka dikritikdan diberi hukuman.
Jika anak selalu menolak aturan. Orangtua dapat memberikan pilihan pada anak. Daripada mengatakan “Kamu tidak boleh menggunakan peralatan ayah!” lebih baik mengatakan “Ini adalah sejumlah peralatan yang kamu bisa gunakan untuk bermain, sedangkan untuk peralatan yang itu tidak boleh ya”.  Jadi, jangan hanya melarang anak tetapi juga beri mereka pilihan mana yang bisa mereka lakukan.
Prinsip-prinsip Koreksi
Koreksi perlu untuk mengubah perilaku yang salah. Namun koreksi perlu diberikan dengan cara yang tepat. Sebab bila koreksi diberikan dengan kasar justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan berdampak pada menurunnya kepercayaan diri anak. Koreksi yang diberikan disertai dengan kemarahan orangtua akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang orangtua. Anak menjadi ragu apakah orangtua masih mengasihinya. Oleh sebab itu, tujuan dari koreksi seharusnya adalah mendapatkan perubahan perilaku menjadi lebih positif dengan dampak negatif seminimal mungkin.
Berikut adalah 7 prinsip dalam menerapkan koreksi :
  • Tolak perilaku negatif anak, tetapi jangan tolak anak secara pribadi.
Jangan katakan “Kamu lakukan hal buruk karena kamu anak nakal!” Saat kita mengatakan perilakunya tidak dapat diterima, anak perlu memahami bahwa ia sebagai pribadi tetap kita terima dan kasihi. Perilaku buruk tidak berarti anak menjadi buruk. Anak lebih dapat menerima koreksi ketika mereka tahu bahwa perilaku yang buruk tidak membuat mereka kehilangan kasih sayang orangtua. “Orangtuaku tidak suka apa yang kulakukan, tetapi aku tahu orangtuaku tetap mengasihiku.”
  • Jangan memberikan koreksi tanpa arahan.
Koreksi dapat membingungkan anak bila orangtua hanya melarang apa yang tidak boleh dilakukan anak. “Jangan lakukan itu!” “Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Lalu aku harus lakukan apa”, kata anak kebingungan. Anak perlu diberitahu apa yang boleh ia lakukan. Oleh sebab itu saat memberikan koreksi, usahakan untuk memberikan pula alternatif pilihan yang dapat dilakukan anak.
  • Berikan koreksi yang non-evaluatif
Koreksi itu sudah bersifat kritik sehingga kita tidak perlu menambahkan lagi hal negatif yang dapat menyakiti hati anak. Misalnya “Kamu seharusnya tahu itu. Ayah kan sudah memberitahumu berulangkali. Kamu benar-benar anak yang tidak bisa diatur.” Daripada mengatakan hal seperti ini, lebih baik katakan dengan singkat “Ayah tidak setuju dengan pilihan yang kamu buat. Ini alasannya dan ini akibatnya. Kamu perlu melakukan konsekuensi ini untuk memperbaiki perilakumu.”
  • Fokus pada perilaku yang spesifik
Jangan gunakan bahasa yang abstrak untuk menjelaskan perilaku, misalnya “Kamu tidak bertanggung jawab”. Hal ini tidak menjelaskan apa yang ingin diubah dari perilaku yang salah tersebut. Lebih baik katakan perilakunya secara spesifik, seperti “Kamu sudah setuju untuk langsung pulang ke rumah setelah dari sekolah. Namun kini kamu main dulu di lapangan hingga sore dan membuat ayah serta ibumu cemas karena kamu tidak memberitahu. Kamu melanggar aturan dan kesepakatan kita bersama.”
  • Berikan koreksi yang bersifat mendidik
Apakah koreksi yang kita berikan dapat membuat perilaku anak berubah di masa mendatang? Semua itu tergantung pada bagaimana orangtua menggunakan perilaku yang salah itu sebagai sarana untuk mengajarkan anak mengenai perilaku yang baik. Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk berdiskusi dengan anak mengenai apa yang salah dari perilakunya, mengapa anak berperilaku seperti itu, apa akibatnya, apa yang dapat dilakukan anak di lain waktu agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Koreksi dapat memberikan efek jangka panjang bila kita dapat menanamkan nilai-nilai pada anak sehingga ia mengerti bagaimana harus berperilaku.
  • Berikan apresiasi karena sudah mendengarkan
Tidak ada anak yang senang diberitahu mengenai perilakunya yang salah dan mendapat konsekuensi dari perilaku tersebut. Oleh sebab itu, kita perlu memberikan respon positif bila anak sudah mau mendengarkan apa yang kita mau.
  • Setelah berikan koreksi, berikan harapan akan kerjasama yang lebih baik di lain waktu
Selalu akhiri koreksi dengan mengatakan “Ayah tahu perilakumu akan lebih baik di lain waktu”.
 
 
Saat melakukan koreksi usahakan tetap memberikan respon yang rasional, daripada emosional. Jika mengoreksi anak dengan kemarahan, anak hanya akan mengingat kemarahan orangtua dan tidak menyadari kesalahannya sehingga anak tidak belajar dari kesalahan.
Sumber:
Pickhardt, C.E, Ph.D (2004) The Everything Parent’s Guide To Positive Disciplin. U.S.A : F+W Publication, Inc.