Sabtu, 03 Oktober 2015

Ikuti Lomba Cipta Puisi Hijau 2015

ari Kita Rawat dan Lestarikan Bumi
Rumah kita satu-satunya
Yayasan Bhakti Suratto menyelenggarakan:
Lomba Cipta Puisi Genre Sastra Hijau 2015
Tema: MERAWAT DAN MELESTARIKAN BUMI BESERTA ISINYA
Berhadiah Uang Tunai, 101 Karya Puisi Pilihan dibukukan
Puisi  Terbaik mendapat penghargaan
Suratto Green Literary Award
Puisi  Terpilih mendapat  penghargaan
Suratto Green Literary Appreciation 


Syarat-Syarat Lomba:
  • Lomba terbuka untuk 4 (empat) kategori:
(A) Tingkat Pelajar SD;
(B) Tingkat Pelajar SMP/SLTP;
(C) Tingkat SMA/SLTA;
(D) Tingkat Mahasiswa & Umum (Guru, Dosen, Penyair dan Masyarakat Umum).
  • Peserta adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Tanah Air maupun yang tinggal di luar negeri/mancanegara dalam rangka studi atau sedang bertugas.
  • Lomba dibuka  1 Oktober  2015 dan ditutup  30 Oktober 2015 pukul 24.00 WIB.
  • Puisi yang dilombakan merupakan karya asli dan sedang tidak diikutsertakan dalam lomba, bertema Merawat dan Melestarikan Bumi beserta isinya
  • Panjang puisi maksimal 4 (empat) bait, ditulis dengan huruf Times New Roman, font 12, berjarak 1,5 spasi tiap baitnya dan 2 (dua) spasi untuk jarak bait berikutnya. Bagi puisi naratif, per bait boleh lebih dari 4 (empat) larik  maksimal  8 (delapan larik) dan terdiri atas hanya 3 (tiga) bait
  • Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 2 (dua) judul puisi, dilampiri scanning identitas KTP atau Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa, foto pose menarik/enak dipandang  dan Surat Pernyataan Karya Asli yang ditandatangani di atas Materai Rp 6.000,- kemudian di-scanning, dikirim melalui e-mail:  rayakultura@gmail.com dan cc ke:sekolahmenulis@gmail.com
  • Manuskrip puisi yang dilombakan menjadi milik Panitia Lomba  dan hak cipta milik penyair.
  • Penentuan Pemenang  – Total karya  puisi yang masuk ke Meja Panitia Lomba akan diseleksi sebanyak 101 judul dan dipilih pemenangnya sebagai berikut:
Puisi Terbaik Kategori A;
Puisi Terbaik Kategori B;
Puisi Terbaik Kategori C dan
Puisi Terbaik Kategori D.
Karya puisi 97 judul yang tidak menang  sebagai  Puisi Terpilih

  • Hadiah untuk Pemenang:
Puisi Terbaik Kategori A – Uang Tunai Rp 750.000,- (Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) +  Suratto Green Literary Award;
Puisi Terbaik Kategori B – Uang Tunai Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) + Suratto Green Literary Award;
Puisi Terbaik Kategori C – Uang Tunai Rp 1.250.000,- (Satu Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) + Suratto Green Literary Award  dan
Puisi Kategori D – Uang Tunai Rp 1.500.000,- (Satu  Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) + Suratto Green Literary Award.
Sebanyak 97 Judul Puisi Terpilih mendapat penghargaan Suratto Green Literary Appreciation dalam bentuk digital.
Pajak Hadiah ditanggung oleh masing-masing pemenang
Puisi 101 judul yang terseleksi akan dibukukan sebagai antologi,  diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Suratto sebagai penyelenggara lomba.

  • Pengumuman Pemenang tanggal 19 November 2015, melalui Website Laskar Pena Hijau: www.laskarpenahijau.comWebsite Rayakultura:www.rayakultura.net dan Mediasosial: Fabebook, Twitter
  • Penyerahan hadiah bagi para pemenang diberikan pada Peringatan Hari Pohon Dunia – 21 November 2015 Pukul 09.00 – Selesai dalam Acara Anugerah Suratto Green Literary Award. Acara tersebut disertai  berbagai pentas sastrawi dan  Pembacaan serta Pentas Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Genre Sastra Hijau (LCPGSH) 2015 – Suratto Green Literary Award,   bertempat di Amphi Theatre Sekolah Alam Cikeas Cibubur.
  • Panitia tidak menanggung transportasi dan akomodasi para pemenang juga para pembaca dan pementas puisi.

  • Dewan Juri terdiri dari:
Maman S. Mahayana – Ketua Dewan Juri
Naning Pranoto – Anggota
Kurniawan Junaedhie – Anggota
Adri Darmadji Woko – Anggota
Dodi Mawardi – Anggota
Ewith Bahar – Anggota
Shinta Miranda – Sekretaris



Cikeas, 30 September 2015

Naning Pranoto
Ketua Pelaksana  LCPGSH 2015

Kamis, 01 Oktober 2015

Menghadapi Diagnosis Anak Berkebutuhan Khusus

Irene

Menghadapi Diagnosis Anak  Berkebutuhan Khusus
ditulis oleh Irene Raflesia, M.Psi, Psikolog 
Psikolog dari Klinik Pelangi
Menerima diagnosis dari profesional terkait kondisi yang dialami oleh orang terdekat Anda bukanlah hal yang mudah bagi sebagian besar orang. Saat Anda mendengar diagnosis yang disampaikan oleh profesional, baik itu penyakit terminal, kronis, gangguan kompleks, ataupun gangguan serius lainnya, informasi ini  bisa saja menjadi hantaman besar bagi keluarga Anda. Hal ini juga dapat terjadi tatkala diagnosis berkebutuhan khusus ditujukan kepada buah hati Anda.
Diagnosis berkebutuhan khusus ini tidak hanya terbatas pada kondisi disabilitas fisik atau gangguan medis serius, seperti kanker atau penyakit kronis lainnya saja, tetapi juga gangguan perkembangan yang mungkin saja membatasi kemampuan anak untuk berfungsi sesuai dengan tahapan perkembangannya (Heller, 2013). Tak dapat dipungkiri, ketika anak Anda menerima diagnosis dari profesional, orangtua umumnya akan mengalami beragam keadaan emosi akibat duka yang diterima dalam mencerna kabar ini.
Moses (1987) menjabarkan bahwa orangtua umumnya akan mengalami proses berduka akibat kehilangan impian untuk menjalankan peran orangtua sebagaimana yang dialami oleh orangtua lainnya. Proses duka ini sebetulnya diperlukan guna memberikan kesempatan bagi orangtua untuk memisahkan diri dan merelakan impian dan harapan yang sebelumnya ia tanamkan. Orangtua yang baru menerima diagnosis anak berkebutuhan khusus akan segera dihadapkan pada beragam agenda tugas yang rumit, menuntut, menantang, menguras waktu, tenaga dan juga emosi. Merelakan impian yang ia tanamkan terhadap anak sekaligus melanjutkan perjalanan baru dalam merawat anak bukanlah proses yang mudah sehingga orangtua perlu mengalami proses berduka untuk dapat melanjutkan hidup.
Saat menerima diagnosis, tentu tak jarang, orangtua mengalami penyangkalan terhadap diagnosis, kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, depresi dan bahkan merasakan amarah baik kepada dirinya, pasangannya, maupun anaknya. Orangtua perlu menyadari bahwa berbagai kondisi emosi ini adalah hal yang wajar mengingat proses berduka setiap orang pun unik. Tidak ada cara yang benar atau salah dalam membiarkan diri kita mengalami proses berduka.
Orangtua yang menolak untuk menghadapi proses berduka umumnya dapat terlihat melalui beberapa ciri ini, yaitu menyimpan perasaan, menyalahkan diri sendiri dan orang lain, dan bahkan mencari pelampiasan untuk mengalihkan perhatiannya dari dampak emosi saat menerima diagnosis ini. Bagaimana pun cara yang ditempuh, selama orangtua tidak membiarkan dirinya menghadapi proses berduka ini, mereka akan terus berada dalam siklus kesedihan yang tentu akan berpengaruh terhadap kesejahteraan anak dan keluarga (Reinsberg, 2015).
Menerima diagnosis ini tidaklah mudah sehingga orangtua perlu mempelajari berbagai strategi yang dapat digunakan untuk melalui tahapan berduka ini:
  • Berilah ruang dan waktu bagi diri Anda sendiri
Ambillah waktu untuk merawat kesehatan Anda sendiri. Walau terdengar sepele, Anda tetap perlu berada dalam kondisi prima untuk dapat merawat anak maupun keluarga Anda. Bekali diri Anda sendiri untuk dapat senantiasa kuat agar Anda dapat memberikan kekuatan pada anak dan keluarga. Tidur dan makan yang cukup, olah raga, serta mengambil sedikit waktu untuk melakukan aktivitas bagi diri Anda sendiri dapat membantu Anda menghadapi stres sehari-hari dan membuat Anda lebih menghargai waktu yang Anda habiskan untuk merawat anak dan keluarga Anda.

  • Ekspresikan perasaan Anda
Temukan cara yang nyaman bagi Anda untuk berbagi cerita ataupun mengekspresikan perasaan Anda kepada orang-orang yang Anda percayai. Menemukan orang yang dapat mendengarkan dan memahami situasi yang Anda hadapi sangatlah penting untuk membantu Anda melalui proses ini.

  • Temukan berbagai sumber informasi tentang diagnosis tersebut
Orangtua dengan anak berkebutuhan khusus tentu mengalami ketakutan mengenai apa yang akan terjadi di masa mendatang. Isilah kekosongan ini dengan memperkaya diri Anda dengan informasi serta meminta bantuan profesional untuk membuat Anda dan keluarga lebih memahami diagnosis tersebut.

  • Carilah informasi tentang komunitas dukungan kelompok bagi orangtua dan anak
Dengan mengetahui ada orang lain yang pernah mengalami hal yang sama, Anda dapat merasa lega dan lebih nyaman karena Anda tidak sendirian. Anda dapat bergabung dalam komunitas online seperti blog, forum internet, dan komunitas sosial untuk membuat diri Anda lebih mudah bertukar informasi sekaligus juga mengungkapkan masalah kepada orang lain yang lebih memahami perasaan yang Anda alami.

  • Mintalah bantuan profesional
Tidak ada orang lain yang lebih mengenal diri Anda selain Anda sendiri. Jika Anda merasa tidak berdaya atau putus asa, cemas, atau mengalami konflik yang membuat Anda tertekan, Anda dapat mencari bantuan dari psikolog maupun konselor.

Salah seorang tokoh favorit saya, Helen Keller, pernah berkata, “what is very difficult at first, if we keep on trying, gradually becomes easier.” Apa yang awalnya sangat sulit, jika kita tetap mencoba, lama kelamaan akan menjadi lebih mudah. Menjadi orangtua sejak awal bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih ketika buah hati yang didambakan memiliki kebutuhan khusus. Diagnosis diberikan bukan untuk dijadikan sebuah label baru bagi anak dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan seluruh impian dan harapan orangtua. Diagnosis ini adalah sebuah awal perjalanan baru yang menunjukkan liku kehidupan yang belum pernah  terbayang sebelumnya. Hal yang terpenting adalah bagaimana orangtua melintasi perjalanan ini dengan mendefinisikan ulang kriteria kemampuan, kompetensi, potensi anak, menyusun ulang rencana dan prioritas, menegosiasikan tujuan sampai akhirnya menemukan makna dan impian baru dari perjalanan inilah yang akan menentukan sejauh mana anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang ia miliki.

Referensi:
Ahern, K. (2014). Your Child Had A Special Needs Diagnosis—Now What?. Diambil dari: www.nymetroparents.com/article/What-to-Do-After-Your-Child-is-Diagnosed-with-Special-Needs
Heller, K. (2013). The Challenge of Children with Special Needs. Diambil dari: psychcentral.com/lib/the-challenge-of-children-with-special-needs/?all=1
Moses, K. (1987). The Impact of Childhood Disability: The Parents Struggle. WAYS Magazine, Spring. Evanston, IL
Reinsberg, K. (2015). Stages of Grief for Parents of Children with Special Needs. Diambil dari: www.abilitypath.org/areas-of-development/delays--special-needs/states-of-grief.html

Selasa, 01 September 2015

Pengaruh Musik bagi Perkembangan Anak

Pengaruh Musik bagi Perkembangan Anak
Oleh Lita Patricia Lunanta, M.Psi, Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Pada tahun 1993, Rauscher dan kawan-kawan melakukan penelitian yang dikenal luas dengan sebutan “the Mozart Effect”. Penelitian ini dilakukan kepada tiga kelompok mahasiswa, yang mendapat perlakuan berbeda-beda sebelum mengikuti tes kemampuan spasial. Selama 10 menit sebelum tes berlangsung, kelompok pertama diperdengarkan Sonata Concerto in D Major K.448 karya Mozart, sedangkan kelompok kedua mendengarkan musik relaksasi, dan kelompok ketiga diberi suasana hening. Hasil tes menunjukkan skor yang lebih tinggi dalam spasial temporal reasoning pada mereka yang mendengarkan sonata karya Mozart sebelum test. Setelah penelitian ini dipublikasi muncullah pandangan bahwa musik klasik akan meningkatkan inteligensi sehingga ibu yang sedang mengandung dan bayi disarankan untuk banyak mendengarkan musik klasik terutama Mozart.  Perlu diluruskan bahwa “There is no magic in Mozart”. Mendengarkan musik klasik tidak akan secara otomatis meningkatkan inteligensi. Peningkatan hasil tes yang ditunjukkan pada penelitian Rauscher mengacu kepada penalaran spasial dan hanya bertahan 12 menit setelah mendengarkan lagu yang bersangkutan.

Lalu, apakah pengaruh musik kepada perkembangan anak? Apakah musik benar berpengaruh terhadap kecerdasan?
Beberapa penelitian menyangkut musik dan kecerdasan, antara lain:
  • Pada tahun 1997, penelitian di University of Wisconsin dan University of California, dilakukan kepada 789  anak usia 3-4 tahun, menemukan bahwa mereka yang mengikuti kursus piano memiliki hasil tes inteligensi lebih tinggi 34% daripada yang les komputer.
  • Pada tahun 1998, penelitian di McGill University menemukan bahwa terdapat peningkatan pola rekognisi dan representasi mental pada anak-anak yang les musik lebih dari 3 tahun. Peningkatan kemampuan ini juga membawa pengaruh terjadinya peningkatan harga diri.
  • Pada 1996, penelitian di Rhode Island Elementery School, menemukan bahwa terjadi peningkatan dalam kemampuan membaca dan matematika pada mereka yang mengikuti program apresiasi musik.  


 

















Benar bahwa musik memiliki pengaruh kepada perkembangan kognitif anak, bahkan lebih daripada itu, kepada perkembangan sosial dan emosional anak. Namun, pengaruh musik bukannya semata-mata dari mendengarkan musik tetapi dalam mempelajari musik serta belajar memainkan alat musik. Dalam memainkan alat musik, terdapat beberapa keterampilan yang terasah, antara lain:
       Bagaimana memainkan alat musik secara fisik
       Bagaimana membaca musik yang terdiri dari berbagai nada serta interval yang berbeda
       Bagaimana membuat musik yang menyenangkan, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.
       Bagaimana memahami ritme dan struktur lagu, mencakup kecepatan lagu, kalimat lagu, serta ketukan



Selain yang diungkapkan pada bagan di atas, musik memiliki pengaruh kepada area lain, antara lain:
       Kreativitas
       Konsentrasi
       Koordinasi
       Relaksasi
       Kesabaran
       Kepercayaan Diri
       Keterlibatan pada musik juga menunjukkan adanya pengaruh kepada terlihatnya hasil yang baik dalam pemahaman bacaan, kemampuan mengeja, matematika, keterampilan mendengar, keterampilan motorik, kemampuan mendasar dalam belajar (verbal, persepsi, numerik, spasial)
Area yang dipengaruhi
Mekanisme
Ketrampilan kognitif
Pengaruh kepada stimulasi otak
Ketrampilan non kognitif
Disiplin, Persisten, Terlibat
Pengenalan diri
Keterbukaan
Motivasi berprestasi
Prestasi sekolah
Signal positif kepada guru
Keterampilan sosial dan budaya
Interaksi dengan guru
Interaksi dengan teman
Menjadi anggota kelp
Penggunaan waktu
Belajar terstruktur
Manajemen waktu
“tidak ada waktu” untuk perilaku negatif

Bagaimana dengan remaja? Apakah musik juga membawa pengaruh yang positif bagi remaja?
Kegiatan musik merupakan pemanfaatan waktu luang yang baik, dengan demikian dapat meminimalkan waktu untuk berperilaku menyimpang. Dengan musik, remaja mendapatkan lingkungan sosial yang dibutuhkan. Lebih jauh lagi, remaja yang sedang mengalami perubahan hormon dapat memanfaatkan musik untuk mengatur  emosi. Secara kognitif pun, pembelajaran musik jangka panjang dapat membawa pengaruh positif bagi remaja.

Mengingat pentingnya musik dalam perkembangan anak, orang tua dapat mengusahakan lingkungan yang bersifat musikal. Lingkungan yang melibatkan musik tidak sulit untuk diciptakan sehari-hari, antara lain:
       Pada Bayi : Musical Environment
menciptakan lingkungan yang musikal dengan lagu dan gerak
       Anak usia ± 3 tahun : Music Activities
musik dipadukan dengan permainan dan gerakan tubuh, misalnya menyanyi, bergerak (lompat, dansa, dll),mendengar, tepuk tangan & alat musik sederhana, serta sing-along games
       Anak usia ± 4-5 tahun Music Makers   
Kelompok usia ini sudah dapat menikmati pertunjukan musik singkat, mengikuti pelajaran musik berkelompok, belajar memainkan alat musik, belajar menulis nada atau lirik sederhana
       Anak usia 6-10 tahun : Structural Music
Usia sekolah adalah waktu untuk anak lebih terstruktur dalam memainkan alat musik.
                waktu yang tepat untuk belajar musik dengan serius, baik alat musik maupun vokal, dapat
mengenali pola dalam musik dan dapat bereksperimen. Kelompok usia ini juga terbantu dalam perkembangan bahasa dan bicara ketika terlibat dalam musik serta mendapatkan pengaruh positif pada prestasi akademik.
       Anak berkebutuhan khusus (Spesial Needs) : Music Therapy
Musik dapat menghibur, menenangkan, serta membantu mencapai tujuan. Kegiatan musik dapat meliputi gerak tubuh, belajar, dan mengajar melalui musik, mengembangkan keterampilan sosial dan bahasa melalui kegiatan musik kelompok, serta memanfaatkan musik untuk penyembuhan dan kendali emosi.





Minggu, 23 Agustus 2015

Bagaimana Memilih Sekolah Untuk Anak?


Ditulis oleh
Margaretha Wirjadi
Pendiri dan Kepala Sekolah Phoenix Kids Menteng
serta Instruktur Yoga Anak Klinik Pelangi Cibubur


Bagi pasangan yang memiliki anak usia balita, sering kali timbul pertanyaan :
“Sekolah dimana anak kita?”
“Apakah yang tempat bermainnya besar?”
“Apakah yang banyak peralatannya?”
“Sekolahnya keren nggak yah?”
“Sekolahnya mahal nggak yah?”
“Sekolah yang lagi trend yang mana nih?”
“Apakah diajarkan bahasa Mandarin dan Inggris?”
“Pokoknya anak kita harus bisa baca tulis dan matematika!”
“Anak kita harus rangking!”
dan masih banyak lagi pertanyaan serta tuntutan orang tua terhadap bakal sekolah anaknya. Bisakah anda bayangkan begitu banyaknya tuntutan dari orang tua pada saat anaknya baru mulai sekolah?

Dewasa ini anak-anak memulai bersekolah lebih awal dari jaman dahulu. Ada yang memulainya saat berumur 2 tahun, bahkan ada yang mulai dari usia 6 bulan. Beban berat sudah dipikul oleh anak sejak usia dini. Padahal sang anak akan belajar di bangku sekolah selama kurang lebih 20 tahun. Ya… 20 tahun, dimulai dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga bangku kuliah.

“Bagaimana memilih sekolah yang sesuai untuk anak saya?” menjadi pertanyaan yang ada di benak setiap orang tua. Pemilihan sekolah yang tepat akan membantu mengembangkan potensi anak, karena disanalah seorang anak pertama kali mengenal dunia luar dan keluar dari zona nyamannya.

Beberapa tips yang harus diperhatikan orang tua dalam memilih sekolah anak, diantaranya:

1.      Jarak dari rumah ke sekolah.
Pilihlah sekolah yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari rumah. Bila anak terlalu lama menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah, mereka akan menjadi terlalu lelah di jalan dan cenderung moody.

2.      Kurikulum sekolah tersebut.
Jangan sungkan untuk menanyakan kepada pihak sekolah apa yang menjadi fokus pendidikannya. Apakah sekolah menitik beratkan pada akademik atau perkembangan anak? Apakah kurikulum sekolah tersebut disesuaikan untuk setiap tahapan perkembangan usia anak?

3.      Observasi ke sekolah.
Kunjungi dan lakukan observasi pada saat kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Beberapa sekolah usia dini (Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak) memberikan trial class bagi calon muridnya, dimana anak dan orang tua dapat mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Gunakan kesempatan ini untuk melihat bagaimana interaksi antara guru dan anak.

4.      Perbandingan guru dan murid.
Berapa jumlah anak dalam setiap kelas dan berapa guru untuk kelas tersebut? Kelas yang anaknya berumur lebih muda, seperti 2 – 4 tahun membutuhkan lebih banyak perhatian dibandingkan anak usia Taman Kanak-kanak. Namun perlu diingat, guru juga harus berbagi terhadap anak lain.  Oleh karena itu rasio guru dan murid sangatlah penting.

5.      Kegiatan sekolah tersebut.
Apakah sekolah membebani anak dengan akademik atau memang disesuaikan dengan perkembangan anak? Bagaimana perbandingan antara pelajaran di dalam kelas dan di luar kelas?

6.      Biaya dari sekolah tersebut.
Orang tua harus mempertimbangkan biaya pendidikan anaknya secara matang. Tanyakan pada sekolah apakah ada biaya-biaya lain di luar biaya uang pangkal dan uang sekolah yang dibayarkan setiap bulannya. Biaya-biaya seperti seragam, buku, bahan, kegiatan, field trip, graduation, dll, sebaiknya diketahui sejak awal.

Dibutuhkan peran dan kebijaksanaan orang tua dalam memilih sekolah. Jangan hanya sekedar mengikuti trend dalam menyekolahkan anak, tetapi pilihlah sekolah yang sesuai dengan karakter anak kita, karena kita ingin dia berkembang sesuai dengan kemampuannya.


Harus diingat, setiap anak adalah unik dan waktu dia di bangku sekolah masih akan cukup panjang. Memulai bersekolah dengan pengalaman yang menyenangkan akan membantu menyiapkan mereka untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Minggu, 16 Agustus 2015

KOMPETISI

psikologneta
ditulis oleh Reneta Kristiani, M.Psi
Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Di era globalisasi sekarang ini segala sesuatu dituntut untuk berkompetisi, bahkan anak-anak sekalipun. Lihatlah bagaimana anak-anak sudah harus mengikuti tes masuk untuk masuk SD, bahkan di TK pun sudah banyak yang menerapkan seleksi masuk. Jadi yang bisa diterima hanyalah anak-anak dengan tingkat inteligensi yang biasa ditandai dengan skor IQ rata-rata ke atas. Ketika sudah masuk sekolah pun, mereka tetap harus berkompetisi meraih nilai yang terbaik yang nantinya akan menentukan mereka masuk ke kelas unggulan atau tidak. Ada rasa bangga pada orang tua apabila anak mereka dapat berada di kelas unggulan sehingga orang tua pun mendorong anaknya untuk meraih nilai yang baik, apapun caranya. Bahkan ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem akselarasi dimana anak bisa menempuh pendidikan hanya dalam waktu singkat. SD yang tadinya 6 tahun dapat menjadi 5 tahun, SMP & SMA yang 3 tahun menjadi 2 tahun. Apabila anaknya hanya mendapat nilai 70 / 80 (yang sebenarnya sudah melebihi nilai KKM yaitu 60/65), orangtua akan marah dan terus mendorong anak-anaknya untuk meraih nilai lebih tinggi lagi yaitu 90/100. Akhirnya orangtua akan menjejali anak-anaknya dengan banyak les pelajaran seperti Matematika, Science, Bahasa inggris, dll. Anak-anak kehilangan waktu bermain dan beristirahat mereka, pulang sekolah mereka harus tetap belajar dan belajar.
Namun di satu sisi lain, anak seperti kehilangan tujuan hidup. Hidup mereka semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus untuk mata pelajaran tertentu. Ketika ditanya mereka mau jadi apa saat dewasa kelak, banyak dari mereka yang bingung mau jadi apa. Ketika ditanya apa minat dan hobi mereka, mereka pun bingung karena hidup mereka selama ini diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Mereka juga sulit berhubungan sosial dengan orang lain, karena motivasi mereka selalu ingin berkompetisi menjadi yang terbaik dari orang lain.
Dapatkah kita bayangkan bagaimana mereka kelak hidup bermasyarakat ?
Akankah kita biarkan generasi penerus bangsa seperti itu?
Hanya hebat di Matematika atau Science tetapi tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?
Sulit untuk bisa menerima perbedaan dan kelemahan orang lain karena tidak semua orang pintar Matematika atau Science?
Marilah kita mengembangkan juga keterampilan sosial mereka!
Marilah kita memperhatikan juga perkembangan emosi mereka!
Karena di dalam hidup ini, anak-anak juga perlu belajar pemecahan masalah dan cara-cara mengendalikan emosi.
Marilah kita kembangkan juga kreativitas mereka !
Berilah mereka ruang untuk mengenali diri mereka sendiri. Apa kelebihan dan kekurangan mereka, apa minat dan hobi mereka, ijinkan mereka berkreativitas sebebas mungkin melalui kegiatan bermain. Bermain sebenarnya juga mengajarkan mereka cara pemecahan masalah. Melalui bermain, anak juga belajar menyalurkan emosinya dengan cara yang sehat. Masalah apa yang sedang anak pikirkan akan muncul melalui tema-tema dalam bermain. Anak akan merepresentasikan emosi yang ia rasakan melaui alat-alat permainan tersebut.
Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Semoga dengan lebih memahami anak-anak, kita  dapat lebih peka akan kebutuhan mereka. Biarkanlah anak-anak berkembang sesuai dengan usianya. Untuk kehidupan anak-anak yang lebih baik. Demi generasi penerus bangsa karena di tangan anak-anaklah, masa depan bangsa Indonesia.
Selamat menyambut hari kemerdekaan Indonesia!

Sabtu, 01 Agustus 2015

Perkenalkan Psikolog Dewasa di Klinik Pelangi





   Seorang Psikolog lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa UI yang berpengalaman menangani permasalahan seputar kesehatan mental remaja maupun dewasa. Masalah-masalah yang pernah ditangani antara lain tentang masalah stres kerja, stres terkait penyakit kronis, ketergantungan obat-obatan terlarang (adiksi), gangguan emosional dan juga orientasi seksual. Memiliki minat dalam menangani kasus terkait hubungan romantis, orientasi seksual (LGBT), dan dukacita.

Remaja dan Tips Menghadapi Mereka


dinda 3
ditulis oleh Dinda Aisha, M.Psi., Psi.
Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi

Apakah anda orang tua yang memiliki anak yang sudah beranjak remaja? Apakah anda merasa khawatir sampai pusing dalam menyikapi perilaku-perilaku mereka? Artikel ini akan sedikit memberikan gambaran mengenai remaja dan bagaimana orang tua merespon terhada perilaku anak yang sudah beranjak remaja?
Seorang anak disebut sudah remaja apabila ia sudah berusia kurang lebih 13 tahun ke atas. Masa ini adalah masa transisi antara masih menjadi anak-anak dan mempersiapkan diri menjadi dewasa. Di satu sisi mereka tidak lagi anak-anak, tetapi di sisi lain mereka belum siap untuk menjadi dewasa. Mereka biasanya mudah terdeteksi melalui perubahan fisiknya, yaitu mulai menstruasi, tumbuh buah dada, bentuk badan mulai berubah, mulai muncul jerawat untuk perempuan dan untuk laki-laki mulai tumbuh kumis, jenggot, suara mulai berubah dan sebagainya. Perubahan fisik ini diakibatkan oleh perubahan hormon yang ada di dalam tubuh anak. Perubahan hormon-hormon ini mengakibatkan perubahan kondisi emosinya menjadi lebih labil (sering berubah-ubah) dan mudah tersinggung.
Sebagian dari mereka terkadang tidak mau mengikuti aturan karena mereka beranggapan mengikuti aturan adalah hal yang kuno dan tidak cool. Selain itu, mereka juga merasa bahwa teman adalah segala-galanya. Mereka ingin selalu bersama teman-teman, curhat dengan teman, berkumpul dengan teman, mengikuti apa yang teman lakukan, dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa penerimaan dari teman merupakan hal yang penting pada remaja. Namun di sisi lain, mereka juga masih butuh perlindungan dari orang tua. Maka dari itu orang tua juga perlu membangun komunikasi yang tepat dengan remaja agar ketika remaja memiliki masalah, mereka juga akan mencari perlindungan dan pendapat dari orang tua. Apabila komunikasi tidak terjalin dengan baik, maka remaja bisa mencari solusi dari teman atau bahkan lari ke hal-hal yang sangat tidak kita inginkan seperti narkoba, minuman keras dan sebagainya.
Nah, pola pengasuhan setiap tahapan perkembangan memang memiliki tantangannya tersendiri, sebagai contoh mengasuh anak yang baru lahir perlu kehati-hatian. Mengasuh anak batita dan balita, membutuhkan pengetahuan dan pemberian stimulasi yang maksimal. Begitu juga penerapan pengasuhan kepada remaja. Beberapa tips untuk orang tua yang memiliki anak remaja adalah :
  • Ingatlah bahwa orang tua pernah remaja. Coba beberapa saat kembali lagi mengingat masa-masa ketika anda remaja. Apa yang akan anda lakukan dan apa yang anda inginkan orang tua lakukan kepada anda. Hal ini dapat membuat orang tua menjadi lebih peka terhadap kondisi remaja dan memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh remaja.
  • Tetap mempertahankan komunikasi yang positif. Jadilah orang tua, begitu juga teman bagi anak anda yang beranjak remaja. Mereka menginginkan orang tua yang memahami kondisi remaja, seperti apa yang sedang tren di kalangan remaja, apa yang sedang menjadi bahan perbincangan mereka, apa yang mereka sukai, bagaimana cara mereka berpikir dan sebagainya. Cobalah dengarkan apa yang anak anda ceritakan dan hindari pelabelan seperti “nakal”, “jelek”, dan sebagainya. Salah satu bentuk komunikasi yang positif adalah penggunaan I-message. Bentuk komunikasi ini adalah dengan mengutarkan apa yang anda pikirkan dan rasakan daripada menyalahkan anak anda. Sebagai contoh, ketika anda tidak menyukai anak anda pulang terlalu larut malam. Yang mungkin biasa anda katakan adalah “Kamu kemana saja? Kamu tuh sukanya pulang malam terus, kalau terjadi apa-apa bagaimana?” Sekarang coba anda bandingkan dengan mengatakan seperti ini “Bunda dan ayah sedih dan khawatir saat kamu pulang larut malam”. Coba anda bayangkan perkataan mana yang lebih enak didengar dan lebih dapat diterima oleh anak anda.
  • Apabila komunikasi sudah terjalin dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah tetap membuat disiplin di rumah. Namun, buatlah aturan disiplin yang menarik. Sebagai contoh, buatlah aturan disiplin di rumah dan diberlakukan untuk semua anggota keluarga di rumah seperti adik, ayah, maupun bunda. Diskusikan dan buat kesepakatan mengenai aturan apa saja yang akan dibuat di rumah, kemudian tuliskan di kertas dan ditempelkan di kulkas atau dinding rumah. Kemudian, siapa yang melanggar maka akan mendapatkan hukuman atau konsekuensi. Hukuman disini bukanlah hukuman yang bersifat fisik atau merugikan. Sebagai contoh, ketika ada yang melanggar maka ketika hari Sabtu atau Minggu, ia bertugas untuk membuang sampah ke luar, mencuci piring, menyapu halaman, atau menyiram bunga atau kegiatan rumah yang tidak disukai oleh anggota keluaraga.
Beberapa tips di atas bisa coba anda terapkan dengan konsisten di dalam keluarga anda. Ingatlah pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan yang memiliki tantangan tersendiri. Apabila anda bisa melewati tantangan ini dengan sukacita dan terus belajar, maka anda akan merasakan hikmahnya di kemudian hari dengan melihat anak anda juga berperilaku yang positif kepada anda ketika mereka beranjak dewasa.
Enjoy our parenthood!